Wednesday, November 9, 2011

1 Masih Perlukah Mendukung Pulau Komodo?


Masih Perlukah Kita berambisi pulau komodo masuk dalam 7 Keajaiban Dunia dengan melihat fakta-fakta dibawah ini:


01. Desember 2007, N7W mengumumkan peresmian kampanye. Pada tahap awal terpilih tiga destinasi wisata Indonesia dan yang masuk nominasi adalah Taman Nasional Komodo, Danau Toba, dan Anak Gunung Krakatau, bersama dengan 440 nominasi dari 220 Negara.

02. Agustus 2008, Indonesia mendaftar sebagai OSC dan membayar biaya administrasi masing-masing destinasi USD 199.

03. Pada 21 Juli 2009, Taman Nasional Komodo menjadi Indonesia National Nominees dan menjadi salah satu dari 28 nominasi finalis.

04. Februari 2010, pihak N7W menawari Indonesia untuk menjadi tuan rumah deklarasi N7W yang akan dilaksanakan pada 11 November 2010
.
05. Setelah menjajaki dan beberapa kali mengadakan pertemuan, pada 25 November 2010 Indonesia menyatakan berminat menjadi tuan rumah
.
06. Pada 6 Desember, pihak N7W menyetujui Indonesia sebagai tuan rumah dengan liscense fee sebesar 10 juta dolar AS.

07. Pada 29 Desember 2010, N7W mengeluarkan ancaman melalui Kepala Komunikasi N7W Eamon Fitzgerald yang memberikan batas waktu sampai 31 Januari 2011 kepada pemerintah Indonesia, untuk menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah. Jika sampai batas waktu itu tidak ada ketegasan, maka N7W akan menangguhkan status Taman Nasional Komodo sebagai finalis N7W.

08. Todung Mulya Lubis, kuasa hukum Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (dahulu Kembudpar) RI, pada 2 Februari 2011 melayangkan surat elektronik kepada N7W dan memprotes rencana eliminasi TNK sebagai finalis. Lima hari kemudian, surat itu ditanggapi pengacara N7W yang beralamat di London. Isinya, TNK tidak tereliminasi, melainkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenbudpar) tak lagi bisa menjadi official supporting committee (OSC)
.
09. Pada 11 Februari 2011, Todung Mulya Lubis mengirim surat via e-mail lagi dan meminta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenbudpar) untuk kembali menjadi OSC. Surat kedua itu tidak dijawab.

10. Tetap masuknya TNK sebagai finalis tanpa keikutsertaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenbudpar) sebagai OSC itu membuat harga diri bangsa dilecehkan. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang mewakili Pemerintah Indonesia tak boleh ikut mempromosikannya.

11. Maldives (Maladewa), satu dari 28 finalis, menarik diri dari kompetisi yang diselenggarakan N7W itu. Negara kepulauan kecil dekat Sri Lanka itu menarik diri karena urusan finansial yang dibebankan N7W. Maladewa memutuskan untuk mundur di tengah jalan dalam kompetisi dengan alasan panitia New 7 Wonders yang berpusat di Swiss itu meminta uang jutaan dolar AS untuk berbagai keperluan. Awalnya, perusahaan New Open World Corporation (NOWC) yang mengelola kompetisi New 7 Wonders mengutip biaya pendaftaran hanya 199 dolar AS dalam sebuah kontrak partisipasi kompetisi itu pada 2009. Namun, setelah Maladewa akhirnya masuk menjadi finalis atau 28 besar, mulailah muncul tagihan-tagihan lain yang tak disebutkan dalam kontrak awal.

Misalnya saja untuk sponsor platinum yang memiliki hak tertinggi membawa logo New 7 Wonders dalam setiap kampanye, Maladewa diminta biaya lisensi sebesar 350 ribu dolar AS atau sekitar Rp 3 miliar. Kemudian ada dua biaya lisensi sponsor emas yang masing-masing senilai 210 ribu dolar AS atau sekitar Rp 1,8 miliar.

Maladewa juga ditodong biaya sponsor dari acara 'World Tour' untuk delegasi orang untuk mengunjungi negara, menyediakan wahana balon udara, biaya perjalanan bagi para wartawan peliput, akomodasi, biaya komunikasi, dan berbagai biaya lain.

Tak hanya itu, Maladewa juga dibebani biaya lisensi sebesar satu juta dolar AS agar perusahaan telekomunikasi nasionalnya bisa ikut berkampanye dalam New 7 Wonders melalui layanan pesan singkat (SMS). Jumlah ini sempat mengalami penurunan setelah ada negosiasi dengan NOWC menjadi 500 ribu dolar AS atau sekitar Rp 4,4 miliar.

Terakhir, ada pula biaya lisensi untuk maskapai penerbangan Maladewa, Air Maldives, yang nantinya akan menampilkan logo New 7 Wonders pada armada pesawatnya. Biayanya sebesar satu juta dolar AS atau sekitar Rp 8,8 miliar.

      Pemerintah Maladewa yang diwakili Maldives Marketing and PR Corporation (MMPRC) sebenarnya sempat bernegosiasi untuk tetap berada dalam kompetisi itu tanpa perlu membayarkan sejumlah biaya yang memberatkan. Tetapi, menurut MMPRC, pihak NOWC justru memberi pilihan Maladewa untuk tetap bisa mengadakan kunjungan protokoler delegasi panitia New 7 Wonders.

Dengan posisi tersebut bukan berarti Maladewa bebas biaya. Pemerintah setempat masih harus merogoh kocek untuk membayar biaya transportasi dan akomodasi lainnya. ''Anda sangat perlu sponsor untuk berpartisipasi penuh dalam kunjungan acara World Tour,'' demikian Pemerintah Maladewa mengutip ucapan perwakilan NOWC.

Akhirnya, setelah kabinet Maladewa berdiskusi dengan para pemangku kepentingan industri pariwisata, mereka pun memutuskan untuk menarik diri dari kompetisi itu segera. Lewat Menteri Pariwisata Seni dan Budaya Thoyyib Muhammad, Maladewa secara resmi mengundurkan diri dari ajang New 7 Wonders pada 17 Mei lalu.


12. Pada 28 April 2011, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kratif mengutus satu delegasi beranggotakan delapan orang yang terdiri dari pejabat kementerian, seorang pengacara dari Kantor Pengacara Lubis, Santosa & Maulana, dan beberapa wartawan nasional untuk menyelidiki keberadaan N7W
.
13. Duta Besar RI untuk Konfederasi Swiss dan Keharyapatihan Liechtenstein, membantu delegasi dari Jakarta untuk penyelidikan itu.  Duta Besar Djoko Susilo sejak pertama kali datang di Swiss telah berhubungan dengan pemimpin redaksi harian nasional Swiss dan selalu mempertanyakan kredibilitas Yayasan N7W. Sangat diherankan para pemimpin redaksi harian nasional Swiss tidak mengenal keberadaan Yayasan N7W
.
14. Tim dari Jakarta yang dibantu staf KBRI Bern mengadakan kunjungan ke alamat yang tertulis sebagai kantor Yayasan N7W: Hoschgasse 8, PO Box 1212, 8034 Zurich. Ternyata kode pos dari alamat yang diberikan tidak sesuai. Seharusnya alamat itu adalah: Hoschgasse 8, PO Box 1212, 8008 Zurich, di mana terdapat Museum Heidi Weber yang diarsiteki Le Corbusier dan selesai dibangun pada 1967. Museum itu hanya buka pada musim panas (Juni, Juli, Agustus) dari jam 14.00-17.00
.
15. Tim dari Jakarta juga mendatangani kantor Pengacara Patrick Sommer dari Kantor Pengacara CMS von Erlach Henrici Ltd, untuk mendapatkan bantuan.

16. Sebagai yayasan, keberadaan N7W cukup unik. Yayasan ini tak jelas alamatnya, kecuali alamat e-mail-nya, hanya tertulis N7W berdiri di Panama, berbadan hukum Swiss, dan pengacaranya berada di Inggris
.
17. Masyarakat Swiss sendiri tidak mengenal Yayasan N7W, dan yayasan ini bukan bagian dari UNESCO.

18. Sebagaimana diketahui, pada 1991, Taman Nasional Komodo bersama Taman Nasional Ujungkulon, Candi Borobudur, dan Candi Prambanan, oleh UNESCO dimasukkan sebagai warisan dunia. Karena reputasi UNESCO sebagai badan khusus PBB yang didirikan pada 1945 itu jauh melampaui N7W, ada baiknya kita tidak terpancing oleh aturan main N7W

Nb :   Karena kejanggalan yayasan N7W, yang disinyalir yayasan "abal-abal" seperti disebutkan oleh Duta Besar RI untuk Swiss, Djoko Susilo, KBRI menghimbau agar masyarakat Indonesia tidak terjebak ke dalam permainan N7W.

KBRI mengatakan rakyat Indonesia seharusnya, "hanya mengakui UNESCO sebagai badan resmi yang memberikan atribusi "World Heritage" untuk mengangkat dunia pariwisata Indonesia sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat serta melindungi daerah konservasi".


1 comments:

Allien 99 said...

daripada ngurusin pulau komodo yang ga puguh juntrungannya mendingan pemerintah ngurusin bencana dan kemiskinan rakyat, macam2 aja nih bangsa ini.. :)

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar anda

DOWNLOAD 4 SHARING